MATA JULING (STRABISMUS) BISA DIKOREKSI

Kelainan arah mata atau mata juling, dalam bahasa kedokteran disebut strabismus, kondisi pada anak tidak hanya mengganggu penglihatan, tetapi juga menimbulkan rasa tidak percaya diri seiring anak beranjak dewasa. Kelainan mata ini dapat dikoreksi jika ditangani sejak dini.

Akan tetapi orangtua kurang memahami tanda-tanda kelainan mata anak, bahkan menganggap sebagai hal wajar. ”Ada orangtua yang beranggapan juling tidak masalah terhadap kesehatan, malah dianggap sebagai pembawa rezeki,” kata Ketua Unit Children Eye Care Jakarta Eye Center @ Kedoya Florence M Manurung seusai seminar bertajuk ”All You Need to Know about Children Eye Problem”.

Mata manusia pada dasarnya melihat ke depan dengan arah sama. Mata akan bergerak terkoordinasi sehingga obyek yang dilihat berpusat di tengah tiap mata.

Pakar Kesehatan Mata Eugene M Helveston dalam tulisannya ”Understanding, Detecting, and Managing Strabismus” yang dimuat Community Eye Health Journal (2010) menuliskan, jarak mata yang kecil membuat citra dari tiap mata sedikit berbeda. Otak kemudian menggabungkan citra dari kedua mata guna menghasilkan citra tiga dimensi, yakni penglihatan binokular. Hal itu menghasilkan persepsi akan kedalaman.

Arah pergerakan mata untuk fokus membutuhkan koordinasi yang diatur oleh 12 otot mata (enam otot di masing-masing mata). Juling mengakibatkan salah satu mata mengarah ke kanan, kiri, atas, atau bawah, sementara mata lain tertuju ke arah berbeda. Garis penglihatan tidak paralel sehingga kedua bola mata tidak berfokus pada obyek yang sama.

”Anak yang juling bisa melihat dengan jelas. Namun, ketika melihat sebuah obyek, sebelah mata tidak fokus atau lari ke arah lain. Jika sudah dewasa, ini akan mengganggu rasa percaya diri,” ujarnya.

Kondisi Penglihatan

Mata juling mengirimkan citra berbeda kepada otak yang bertugas mengelola citra kiriman. Walau jarang, orang dengan mata juling akan melihat dua obyek berbeda di tempat yang sama sehingga penglihatan membingungkan. Yang sering terjadi, mata yang normal akan melihat dengan normal, mata yang menyimpang menangkap citra kabur.

Jika juling dibiarkan, citra kabur akhirnya diabaikan otak sehingga hanya satu obyek yang terlihat. Secara umum, persepsi terhadap kedalaman juga berkurang. Anak dengan mata juling konstan tidak memiliki penglihatan binokular (penglihatan tiga dimensi). Kadang, tajam penglihatan pada mata yang menyimpang akan berkurang (mata malas/ambliopia), bahkan ketika juling diperbaiki.

Kondisi mata yang juling memaksa anak mengubah posisi kepala, seperti memiringkan kepala atau memalingkan wajah guna mempertahankan kedudukan kedua mata tetap lurus tertuju pada obyek.

Penanganan Sejak Dini

Penanganan kelainan mata pada anak sebaiknya dilakukan sejak dini agar hasilnya baik. Mata anak memiliki tahap pertumbuhan tersendiri. Sistem penglihatan anak berkembang pesat pada 18 bulan pertama, kemudian menjadi sempurna pada usia 5-6 tahun. ”Pada saat lahir, bayi hanya melihat pola terang dan gelap, tetapi fokus masih kabur. Bayi dengan penglihatan normal akan merespons wajah seseorang dari jarak dekat,” ujar Manurung.

Pada usia 4-6 bulan, bayi akan menggerakkan kepala untuk mengikuti obyek bergerak. Pada usia 6-8 bulan, bayi bisa melihat warna secara lengkap dan kedua matanya sudah terkoordinasi dengan baik sehingga gerakan mata mulai terkontrol. Pada usia 8-12 bulan, bayi akan menggunakan kedua mata bersama-sama untuk menilai jarak dan seiring pertumbuhan anak, koordinasi tangan dan mata meningkat pada usia 1-3 tahun.

”Sampai usia enam bulan, mata yang juling masih bisa dikatakan normal karena otak belum terkoordinasi baik dengan mata. Jika setelah enam bulan mata masih juling, pasti ada masalah. Pada usia itu, otak sudah memberi perintah kepada mata,” kata Manurung.

Begitu terjadi kelainan, sebaiknya anak segera diperiksakan ke dokter spesialis mata agar dicari penyebabnya. Juling dapat bersifat bawaan, disebabkan penyakit, trauma, gangguan pada saraf atau otak, atau pertanda gangguan yang lebih serius, seperti kanker mata atau otak. Penanganan dini memperbesar peluang berkembangnya penglihatan binokular.

Penanganan bergantung pada kondisi mata juling anak. Penggunaan kacamata dari lensa prima yang membiaskan cahaya sehingga kedua mata menerima gambar yang hampir sama sering digunakan.

Jika terjadi amblipobia (mata malas), gangguan itu terlebih dahulu diatasi dengan menutup mata yang baik untuk memaksa anak menggunakan mata yang malas (terapi oklusi atau patching). Setelah penglihatan yang malas membaik, dilakukan operasi juling untuk mengembalikan kedudukan bola mata.

Koreksi pada mata juling lewat pembedahan pada dasarnya untuk menyelaraskan mata. ”Otot mata dikoreksi, seperti baju yang dipaskan dengan digeser jahitannya.

Pada anak dengan juling konstan, operasi sebaiknya saat penglihatan kedua mata seimbang sehingga penglihatan binokular bisa berkembang. Adapun anak dengan juling yang hilang timbul tidak selalu perlu operasi karena anak masih memiliki penglihatan binokular saat anak tidak terlihat juling.

Manurung mengatakan, juling pada orang dewasa, penglihatan binokular sulit dikembalikan. Operasi dilakukan sebatas memperbaiki penampilan.

Hal yang biasa terlihat pada bayi, apabila bayi jarang menggerakkan mata, tidak memicingkan atau menutup mata saat terkena sinar matahari atau kurang merespons wajah ibu, ada kemungkinan bayi memiliki masalah penglihatan dan sebaiknya diperiksakan kepada ahli mata.

banner sirsak tidur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s